Hari ini hariku berubah gara-gara pigura.
Hari ini seperti biasa, aku bangun pukul 9.30 dan goleran dulu sampai jam 10.00. Kebiasaan baru selama setelah pulang dari Turki ini. Karena satu-satunya tanggung jawabku adalah mengurus toko, yang saat ini belum bisa diurus karena satu dan lain hal. Ini cerita lain.
Lalu aku mandi, dan sarapan, bersama bapak. Selalu aku berdoa, semoga tidak ada argumen yang tidak penting ketika aku sedang di area yang sama dengannya. Dan ternyata tidak ada, syukurlah. Datanglah mbak toko ke atas, memesan 2 kopi kepada Bulik, PRT yang sudah lama melayani disini dan klepto. Oh, berarti Ibu ada tamu di bawah. Padahal kita sudah sepakat bahwa kantor bawah tidak boleh untuk menerima tamu. Yasudah.
Aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan tentang proses mengambil alih toko. Kuputuskan untuk memindah meja bekas meja organ (dari kayu) yang sudah lama menganggur di koridor lantai 2 ke kamarku. Meja ini dulu digunakan untuk menaruh organ murah yang dibeli bapak, lalu rusak, tutsnya patah, lalu entah dimana organ itu sekarang. Lalu karena masih bagus dijadikan meja untuk koridor. Untuk menaruh apa saja, map, topi, kertas-kertas. Saat akan kupindah ke kamarku, banyak barang bapak, dan kutaruh di tempat lain.
Lalu ada pigura itu.
Waktu pertama kali aku melihat organ itu, aku agak sedikit familiar. Lalu aku ingat, pigura itu. Pigura itu kosong tanpa foto. Tapi aku ingat sekali foto itu pernah diisi foto pernikahan bapak dan ibu. Ibu masih muda, 27 tahun, rambutnya disangguldan bermelati. Kebayanya putih tulang. Bapak, juga masih muda, 31 tahun. Jasnya coklat muda berkopyah hitam, dikalungi melati juga. Tempat pigura itu dulu samping belakang tangga menuju lantai 3. Foto itu selalu ada disitu sepanjang yang masih kuingat.
Saat ku dapati pigura itu kosong, dan tergeletak di meja di koridor, it sank in, ya begini sudah keadaannya. mungkin agak telat menyadari itu. Tidak, sebenarnya aku sudah sadar dan tidak denial. Tapi melihat sekali lagi bukti keadaan rumah ini, it stuck me once more.
Sudah tidak ada yang perlu diketik lagi. Semoga semua menjadi lebih bahagia.
Cheers.
Translate
Jumat, 09 November 2018
Selasa, 24 Oktober 2017
Tahayul Turki: Nazar Boncuğu
*tulisan kali ini disponsori oleh males belajar alias kabur
dari ujian mid-term seminggu lagi*
![]() |
| Pohon Nazar Boncugu - Kapadokya |
Puji syukur kali ini saya diberkati ke-excited-an untuk
menulis dan alasan-alasan lain yang mendorong saya untuk menulis tentang Nazar
Boncuğu.
Sebetulnya saya tidak pernah tertarik untuk menulis tentang
Nazar Boncuk ini. Tapi gara-gara satu peristiwa yang menurut saya aneh (atau
kebetulan) yang membuat saya amazed lalu saya jadi tertarik untuk menulis
tentang satu tahayul diantara banyak tahayul di Turki. Jadi begini:
Minggu kemarin, saya diundang sarapan di apartemen teman
sekelas saya (kenapa nggak lunch atau dinner? Tunggu di tulisan saya tentang Kultur
Sarapan Turki). Kami mulai makan di balkon apartemennya sambil ngobrol,
nggosip, dan guyon-guyon. Lalu setelah makan dan foto-foto pastinya, sang tuan
rumah, Busra, menawari kami untuk minum kopi Turki. Lalu salah satu diantara
kami menyeplos, “Wah, sekalian kamu liat ya nanti cangkirnya!”. “Beres.” Busra
menjawab dengan tenang. Lhah. Selama 4 tahun saya sekelas dan
merhaba-merhaba-an dengan mereka kok saya baru tau mereka bisa baca fincan
(baca fincan: membaca/meramal apa yang terlihat di cangkir). “Lhoh aku kok ngga
tau kalian bisa baca fincan? Kalau gitu aku yang pertama kamu lihat ya!” saya
langsung curi start hehe (tulisan tentang ramal meramal kopi Turki akan dibahas di
tulisan selanjutnya). Ternyata cangkir teman saya sudah siap terlebih
dahulu karena saya minum terlalu lambat. Disela menunggu cangkir saya dingin
teman yang duduk disebelah saya, Tugce, sedang membaca cangkir teman saya yang lain. Lhah dua kali.
Ternyata dia juga bisa membaca.
Akhirnya Tugce selesai membaca satu cangkir teman saya. Lalu
saya bilang pada Tugce, “Tugce, nih kamu lihat dulu saja sebelum dilihat Busra.”
“Oh iya mana.” Kata pertama yang dia ucapkan adalah “OHA!”. Oha adalah
kata-kata orang Turki untuk mengapresiasikan kekagetan dengan sedikit tidak
sopan (bila digunakan untuk orang yang lebih tua). “Ada mata (nazar) besar
sekali disini.” Kata Tugce. “Iya saya tadi juga lihat.” Kata Busra dari
seberang meja. Kali itu saya tidak begitu paham dengan konsep nazar lalu saya
hanya jawab “Oh”.
Lalu Tugce menyebutkan hal-hal yang dilihat di cangkir saya
dengan lugas, lancar, dan yakin. Kata dia, ada seseorang yang memandang saya
dengan sangat intens atau bisa jadi dengan penuh kekaguman sehingga menimbulkan
nazar itu tadi. Saya masih menduga-duga nazar itu datang dari siapa. Menurut
dia, ada sosok laki-laki yang saya sedang bertengkar dengannya, lalu dia
melihat ada sosok 3 orang cewek di sekitar saya yang menurut Tugce kalau saya
terlalu dekat bisa meruwetkan urusan, tapi kata dia ada garis diantara
cewe-cewe tersebut yang artinya saya sudah menjaga jarak dengan mereka. Lalu
Tugce menyebutkan ada beberapa jalan/perjalanan yang akan saya alami, dan
beberapa hal lain yang saya tidak ingat.
Busra pun mengatakan hal yang tidak jauh beda, namun ada satu hal yang
sangat ingat, bahwa di cangkir saya muncul seorang wanita yang mendukung saya
dalam hal apapun. Saya langsung teringat ibu.
Hari ini saya berniat meresearch tentang nazar. Saya membuka
laptop saya dan berniat bikin teh. Perlu diingat saya bukan tipe orang yang
ceroboh hehe. Namun entah kenapa waktu itu saya mau pergi mencuci gelas, gelas
yang saya genggam, gelas kesayangan saya yang baru saya beli beberapa minggu
lalu, jatuh atau mungkin tergelincir dari tangan saya dan pecah di lantai. Ketika saya terlihat sedih melihat sisa-sisa pecahan gelas kesayangan saya,
Yasemin, teman sekamar saya berkata “Lah, harusnya kamu jadi tenang dong nazarnya
sudah hilang kena gelasmu”. Lalu saya bingung, “Emang kalau kena nazar segitu
jeleknya apa?” kata saya masih sedih kehilangan gelas. “Ada orang yang sampai
mati kena nazar” kata dia. Saya ingat terakhir kali saya memecahkan gelas adalah ketika saya masih di kelas preparation bahasa Turki, kala itu teman saya juga bicara soal nazar.
Lalu saya cari tau bagaimana kepercayaan orang Turki
terhadap nazar. Saya menemukan satu web yang membahas tentang nazar. Menurut
Institusi Bahasa Turki (Turk Dil Kurumu TDK) Nazar: Keburukan atau
ketidak-beruntungan (nazar/goz) yang diberikan oleh orang-orang tertentu yang
melihat seseorang atau sesuatu dengan kekaguman atau kecemburuan. Seperti
misalnya, orang yang iri dengan mobil seseorang, dipercayai bisa memberi energi
negatif dan bisa menimbulkan hal buruk seperti kecelakaan. Atau ketika kita
melihat bayi yang sangat lucu di jalan, ibunya pasti bilang, jangan lupa bilang
MashaAllah. Nah, disinilah Evil’s Eye dan ucapan MashaAllah berfungsi. Menurut kepercayaan,
Nazar boncuk ini tadi bisa menyedot energi negatif dari kekaguman atau
kecemburuan.
Sering ketika sesuatu terjadi kepada barang baru/bagus atau
seseorang yang cantik/ganteng/bayi lucu/orang dewasa yang lucu *eh orang Turki
sering kali menyalahkan nazar atau ketidak-beruntungan. Bahkan teman saya suatu
kali pernah memuji baju saya (atau apa ya saya lupa) dia berkata, “kalau kena
nazar itu pasti dari saya, soalnya saya suka sekali.”
Nazar boncuk ini biasa di pasang di pintu-pintu rumah,
mobil, bahkan baju anak agar terhindar dari ketidak-beruntungan. Nazar boncuk
ini biasanya terbuat dari kaca. Nah, jadi seperti itulah kepercayaan orang
Turki tentang nazar dan mengapa mereka memasangnya di setiap sudut mulai dari
ukuran seukuran manik gelang hingga sebesar telapak tangan orang dewasa.
Ada yang minat titip mungkin?
Minggu, 15 Oktober 2017
Untuk Sahabat Lama dan Kenangan di Krakow
Sekarang
musim gugur di Zonguldak. 10-13 derajat setiap harinya. Lalu aku teringat
Polandia. Tapi Polandia tidak sehangat ini, aku ingat aku harus pakai 3 lapis
kaos kaki ketika harus keluar asrama.
Lalu
entah kenapa aku teringat Krakow. Krakow adalah salah satu kota tua di
Polandia. Krakow adalah kota terindah dan klasik juga bisa dibilang romantis
yang pernah kita kunjungi sela pertukaran pelajar di kala itu. Dingin juga
membawa ingatanku kembali ke Krakow. Entah mengapa. Mungkin karena kita
kedinginan mulai dari waktu kita turun dari kereta sampai kita akan naik kereta
lagi menuju Katowice. Mungkin karena kita kedinginan ketika mengitari area kota tua di tengah kota Krakow di antara
bangunan-bangunan tua bekas perang dunia.
Kita putar-putar hari itu.
Makan pierogi, minum sup tomat khas Polandia, makan dessert khas Ceko yang aku
lupa namanya namun kita tidak bisa habiskan waktu itu. Di sela tur, aku kedinginan dan minta
berhenti di sebuah kafe. Sebetulnya kafe yang biasa kita kunjungi di Katowice,
tapi karena sekali lagi, Krakow, tempat spesial, setiap sudut terasa indah.
Kafe itu tepat di pojokan depan gereja St. Barbara, ada ibadah waktu itu. Kita
memesan kopi dan pastry masing-masing dan duduk di salah satu kursi untuk 2
orang, sama-sama lelah. Tapi kita tetap menemukan bahan obrolan, tidak seperti
sekarang sikap kita yang berusaha menutup obrolan meskipun aku tau kita berdua menahan
mati-matian untuk sekedar saling sapa.
Hari menjelang malam dan jam
tiket kereta sudah mendekat, terakhir kita melihat seorang ahli besi di tengah
kota tua. Aku tau kamu sangat kagum
dengan hal seperti itu, bahkan kamu mencoba menawari membelikanku
pedang-pedangan dari kayu. -_-
Memang setiap hal yang
terjadi adalah skenario yang paling baik, kata optimist. Aku juga berusaha
percaya, untuk mengobati rasa ingin kembali menjadi sahabat, saudara super
dekat, seperti dulu. Semoga apapun yang telah terjadi dan akan terjadi kepada
kita dan satu sama lain adalah takdir terbaik yang disiapkan untuk kita.
| pintu masuk menuju kota tua |
| monumen di tengah kota tua |
| Wawel Castle |
| Wawel Castle 2 |
Senin, 25 April 2016
Saya dan Makanan Turki
In this point of my
life, where I’m living in Turkey, I started to realize that I am addicted to
some certain things. Certain things I will miss when I graduate. Certain things
that don’t exist in my home country, Indonesia. By certain things, mostly I’m
talking about foods.
Selama saya tinggal di Turki, kurang lebih 3 tahunan,
semenjak saya datang pertama kali kesini saya menemukan sekali banyak kultur
baru, kebiasaan baru, cara baru melakukan sesuatu, dan itu semua beda sekali
dengan kebiasaan dan kultur saya di kampung halaman. Mereka makan roti dan kita
makan nasi. Mereka minum teh hitam dan kita minum the melati. Mereka tidak
begitu doyan bumbu dimana kita kalau makan kurang bumbu tidak jadi makan. Saya jadi
ingat pertama kali datang ke asrama saya di Zonguldak, saya dibimbing teman
saya untuk caranya ambil makan dan saya kaget, ‘Ini semua makanan apa siiih…’.
Salah satu keragaman masakan Turki adalah mereka menggunakan
plain yogurt untuk saus yang dituang di atas atau di samping makanan. YES,
nggak salah baca kok. Misalnya masakan ıspanak, biber dolması, oturtma, kızartma, iskender (google ya guys) makanan-makanan tersebut menggunakan
yogurt sebagai saus. Nah, dulu saya sempat jijik dan kalau mau makan menu-menu
tersebut pun saya minta yang tidak pakai yogurt. Tapi lama kelamaan dan mulai
kapan saya ngga inget, akhirnya saya suka juga tuh. Malah kalau tidak pakai
yogurt rasanya jadi aneh. L
| iskender |
| ispanak |
| biber dolmasi |
Lalu ada pengalaman lagi tentang acar. Orang Turki, Timur
Tengah dan Eropa Timur suka sekali membuat acar dari semua vegetable. Literally
semua. Kubis, mentimun, tomat, wortel, cabai, dll. Awalnya, tradisi membikin
acar ini bertujuan untuk cadangan makanan selama winter. Selama winter kebun
dan ladang tidak berproduksi jadi selama musim semi dan panas mereka
mengacarkan tumbuh-tumbuhan. Di Turki, acar pertama yang saya kenal adalah acar
mentimun. Acar mentimun orang Turki beda dengan acar kita, acarnya tidak
dipotong dan baunya sedikit ‘berbeda’. Pertama saya kenal acar itu adalah
ketika roommate saya pulang dari kampung halamannya dan dia kembali ke asrama membawa
setengah gallon acar. Saya yang baru pertama kali mencium baunya sampai sedih
karena mereka ngga sadar kalau saya ngga suka dan saya pun sungkan mau bilang,
akhirnya saya cuma bisa masuk selimut sampai pelepekan. L Tapi akhirnya saya suka juga
kok dengan berbagai acar di Turki ini. Dan by the way acar favorit saya adalah
acar turnip. *drooling*
![]() |
| acar turnip |
Selanjutnya adalah tradisi minum teh. Teh yang diminum di
Turki adalah teh hitam, rasanya lebih pahit dari teh melati Indonesia. Di
Indonesia, teh manis, panas atau dingin, diminum pagi saat sarapan (jika ingin)
atau setelah makan saja, kan? Di Turki tidak begitu, kebanyakan orang Turki
minum teh tanpa gula dan teh diminum hanya saat panas, kalau dingin ya dibuang.
Teh wajib ada saat sarapan, di waktu lain seperti lunch dan dinner, teh diminum
setelah makan bersama desert sambil ngobrol dengan kerabat. Ufff ini mantap
sekali dan budaya yang paling saya suka. Teh juga diminum ketika kamu pergi
ngobrol ke café dan ngobrol bersama sahabat, atau sekedar saat istirahat sela
kuliah, pokoknya teh itu jiwa.
| turkish tea |
Selain itu ada juga beberapa makanan yang terasa aneh di
mulut orang Indonesia meskipun sudah lama tinggal di Turki, misalnya şalgam
suyu; air acar wortel
hitam yang rasanya sedikit berempah, ayran;
minuman dari yogurt yang rasanya sedikit asin, dan buah zaitun yang biasanya
dimakan dalam sarapan.
| salgam suyu |
Dari kesemua yang
saya sampaikan diatas hanya beberapa yang saya tidak suka. Dengan tidak sadar saya
sudah terbiasa dengan makanan-makanan di Turki (bukan berarti saya sudah tidak
suka makanan Indonesia lo). Saya sempat kepikiran, beberapa tahun kedepan
seandainya saya kepikiran tiba-tiba pingin acar turnip, lalu saya harus apa
hahaha, dan saat itu juga saya juga sadar kalau di Turki ini saya tidak cuma suka
acar turnip, tapi hampir semua makanan Turki.
Semoga nasib
mengizinkan saya untuk mendapatkan rejeki sehingga tetap bisa makanan-makanan
Turki langsung dari tanahnya. Aamiin.
Senin, 18 Januari 2016
2/8 and 3/8 Short Review
This is still January right, so I still can wish you all a happy, healthy, cheerful, and peaceful year ahead.
I'm a lazy blogger. Apparently not just as a blogger, but also in other fields I’m a big procrastinator. The last time I opened this blog was, emmm last month if I’m not mistaken, while the last post I made was in..... July last year. WHAT. Gila bruh.
In that interval of time there were a lot of events I passed without sharing it here. Let's see what we got here; the last time I wrote was last July, means when I was on my summer holiday in Indonesia. Summer holidays is the most unproductive time of my year and after that winter holiday is following in the list. So I will leave it to that. In September, I came back to the lovely Zonguldak, kömür kokulu memleketim (google that). Well, I'm supposed to sum up my 2nd and 3rd semester in university as what I’ve written in the title.
Before getting into the 3rd semester let’s just have a look at what I’ve done in 2nd semester. There were 9 subjects and 2 of them were non face to face subjects (means we can follow up from the internet; uzaktan egitim). I passed the entire subject with average marks. No remedy. The marks and the GPA is better than the 1st semester but still my GPA couldn’t reach 3 in that semester, because I think I still couldn’t get used to Turkish words (BOOO!). But, there were this one subject that I was afraid of at the beginning of semester (click here to read my post about first semester), which was Ticaret Hukuku (commercial law) but turned out at the end I got BA from that subject. Hehe. Aferin kendime.
And then the summer holiday. It went so well, the highlight of the year. Although it passed so quickly no one knows why.
The 3rd semester started really normally. Like there was no special new spirit, supposed that I’ve been on holiday. Nope. There was 8 subjects, I went to classes (more than last semesters) and from the first week of semester to mid-term it was only 4 weeks. And I studied. Köpek gibi. I started to study earlier because I was just in mood for studying hahaha. And surprisingly I got nice marks. Paid off!!
From the mid-term to final exams I got 3 weeks and guess what, a week before the exams I went on a holiday for a full week to Istanbul, Izmir, and Konya with my friend who is studying in England, Mbak Dilla (you can read the article about it here in her blog) NEKATTT! When I came to Zonguldak I caught cold too unfortunately. Tired, sick, and exam weeks. Nice combination isn’t it? But thank God the marks that I got are so good; in fact my GPA is 3 point something. Thank God once again.
So, that’s all about my second and third semester here in Bulent Ecevit University in Zonguldak. Now I’m on my winter holiday, broke. Hahaha. My mom offered me to go home but no thanks Mom. Winter break has always been a pain for me, especially when you don’t have family around. You got nothing to do, everyone is going home, and it is too cold if you wanna go somewhere. But its either you go somewhere or you stay in dorm and rot. At the next post I'm coming with more pictures from my holiday.
Thanks for reading!
PS: correct me if you find grammatical mistake(s) :)
I'm a lazy blogger. Apparently not just as a blogger, but also in other fields I’m a big procrastinator. The last time I opened this blog was, emmm last month if I’m not mistaken, while the last post I made was in..... July last year. WHAT. Gila bruh.
In that interval of time there were a lot of events I passed without sharing it here. Let's see what we got here; the last time I wrote was last July, means when I was on my summer holiday in Indonesia. Summer holidays is the most unproductive time of my year and after that winter holiday is following in the list. So I will leave it to that. In September, I came back to the lovely Zonguldak, kömür kokulu memleketim (google that). Well, I'm supposed to sum up my 2nd and 3rd semester in university as what I’ve written in the title.
Before getting into the 3rd semester let’s just have a look at what I’ve done in 2nd semester. There were 9 subjects and 2 of them were non face to face subjects (means we can follow up from the internet; uzaktan egitim). I passed the entire subject with average marks. No remedy. The marks and the GPA is better than the 1st semester but still my GPA couldn’t reach 3 in that semester, because I think I still couldn’t get used to Turkish words (BOOO!). But, there were this one subject that I was afraid of at the beginning of semester (click here to read my post about first semester), which was Ticaret Hukuku (commercial law) but turned out at the end I got BA from that subject. Hehe. Aferin kendime.
And then the summer holiday. It went so well, the highlight of the year. Although it passed so quickly no one knows why.
The 3rd semester started really normally. Like there was no special new spirit, supposed that I’ve been on holiday. Nope. There was 8 subjects, I went to classes (more than last semesters) and from the first week of semester to mid-term it was only 4 weeks. And I studied. Köpek gibi. I started to study earlier because I was just in mood for studying hahaha. And surprisingly I got nice marks. Paid off!!
From the mid-term to final exams I got 3 weeks and guess what, a week before the exams I went on a holiday for a full week to Istanbul, Izmir, and Konya with my friend who is studying in England, Mbak Dilla (you can read the article about it here in her blog) NEKATTT! When I came to Zonguldak I caught cold too unfortunately. Tired, sick, and exam weeks. Nice combination isn’t it? But thank God the marks that I got are so good; in fact my GPA is 3 point something. Thank God once again.
So, that’s all about my second and third semester here in Bulent Ecevit University in Zonguldak. Now I’m on my winter holiday, broke. Hahaha. My mom offered me to go home but no thanks Mom. Winter break has always been a pain for me, especially when you don’t have family around. You got nothing to do, everyone is going home, and it is too cold if you wanna go somewhere. But its either you go somewhere or you stay in dorm and rot. At the next post I'm coming with more pictures from my holiday.
![]() |
| bonus meme, im a 9gagger for sure |
Thanks for reading!
PS: correct me if you find grammatical mistake(s) :)
Kamis, 02 Juli 2015
If You Only Knew
you popped out of no where
chat me saying hi
asking hows my live
while my live got nothing to do with yours
we didnt know each other
havent met each other yet
you just followed my twitter, followed my instagram..
and again out of no where..
then you asked me can you have my number
i gave you mine and things started
we chatted for like 3 days
and hey youre kinda funny and cool
but then puff youre gone
gone like sun in the winter
i was always waiting for you to reply my message
if you only knew
but i think you only see like no big deal
youre right,
youre cool and probably you talk to every girl
and im just dust, a dust who is always waiting for you.
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Tulisan baper 2015.
Jumat, 06 Maret 2015
Mudik Internasional (2)
Hehe. Tulisan ini adalah alasan. Bahane. Biar saya bisa
meninggalkan buku-buku pelajaran saya yang seabrek dan belum terbuka sama
sekali.
..
Seperti yang sudah saya bilang di post bawah, Januari kemarin pas liburan winter saya sempat pulang. Yuhu ke Indonesia tanah air beta. Dan, sebenernya postingan ini agak gak penting sih untuk di share, tapi pengalaman sebelum dan sesudah pulangnya yang lumayanngeri seru yang ingin saya share.
Waktu itu sesudah ujian vize (UTS), setelah stress sampe sakit dan ngga sembuh-sembuh karena ujian, lalu kebanyakan begadang terpaksa
belajar selama sebulan penuh. Kenapa saya jadi lebay begitu? Karena saya ngga
ngerti akan seberapa susah atau mudahnya ujian-ujian nanti. Itu ada factor utama
yang bikin saya stress. Dan saya yang bener-bener selama 1 bulan tidur jam 5
pagi bangun jam 12 siang (kadang saya skip kelas (ga perlu dicontoh)) lalu kuliah sampe sore dan makan dan belajar
lagi. Because we, me and my roommates, found out that study after 11 at night
is the most effective time for us to study. Kita menemukan mood dan keinginan
belajar di jam-jam tersebut, selain jam 11 keatas tidak ada yang ribut sih.
Beberapa hari menjelang selesai vize, tiba-tiba dini hari sekitar pukul 4 waktu Turki (Indonesia pukul 9) Ibu saya bbm, percakapan biasa lah lagi apa, temen sekamar lagi apa, liburan winter mau kemana, dst dst. Saya bilang liburan winter mau ke tempat Nana dan Mbak Ida di Canakkale. Nana dan Mbak Ida adalah bisa dibilang orang terdekat di Turki sih, meskipun mereka tinggalnya di ujung Akdeniz sana. Nana adalah murid Indonesia dari Magelang, dan Mbak Ida adalah orang Surabaya yang menikah dengan orang Turki. Anyways, tiba-tiba juga Ibu chat “dari pada kamu di sana jalan-jalan sama nyari makan sendiri jatohnya juga ngabisin uang saku mending pulang aja kamu”, demi apa. Ya siapa juga yang ngga senang disuruh pulang. Tapi banyak alasan juga sih yang sebenarnya menghalangi saya pulang, seperti saya harus menunggu ujian remedy (butunleme) dimana saya ngga tau ada pelajaran yang ngga lulus atau tidak, dan juga harga dollar yang cukup mahal saat itu. Dengan segala bujuk rayunya dan iming-iming dibayari uang tiketnya, akhirnya saya setuju buat pulang dan gambling dengan butunleme tadi, kalau saya ada yang tidak lulus berarti nasib saya buat mengulang tahun depan tanpa ikut ujian remedy. Akhirnya besok lusanya setelah dioyak-oyak Ibu lagi untuk beli tiket, malam hari (ditengah got kamar mandi kamar saya yang buntu mengakibatkan banjir jorok di kamar) setelah memilih-milih maskapai saya akhirnya memesan maskapai langganan (weits) Qatar Airways. Alhamdulillah.
Paginya, jeng-jeng!! Saya lupa kalau resident permit (ikamet) saya lagi diurus perpanjangannya di kantor polisi. Kantor polisi Turki. Yang ngga jelasnya mirip-mirip kantor polisi Indonesia. Sumpah. Gimana saya bisa lupa kalau ikamet saya lagi ngga ada. Jadi resident permit itu gunanya seperti visa yang masanya lama sekali. Kalau ada resident permit berarti kamu bisa keluar masuk negara itu semau kamu. Kalau ngga ada? Berarti kamu cuma bisa keluar doang ga bisa masuk lagi. Matihhh. Lalu saya ke kantor polisi siang itu juga sambil ngantuk-ngantuk (karena baru tidur paginya). Yep ofkors ikamet saya belum datang. Dan kata bu polisinya, mereka bisa bikin keterangan untuk saya, tapi dalam waktu 15 hari saya harus kembali ke Turki lagi. What theeeee.. Orang saya udah beli tiket buat seminggu lagi dan tiket balik ke Turki adalah telat 2 minggu dari tanggal masuk, berarti sekitar 1,5 bulan. Dan WTH is 15 hari??? Udah beli tiket mahal dan terancam gagal disitu saya merasa stress. Saya sudah stress banget dan nelpon-nelpon Ibu. Ibu pun akhirnya ikutan stress dan takut juga, duh. Saya udah chat sana-sini untuk minta doa biar lancer bisa pulang. 3 hari kemudian, 2 hari sebelum berangkatnya, saya sudah pasrah dan ke kantor polisi lagi, untuk minta surat keterangan 15 hari itu. Dan surprise dari alam! Ikamet saya datang. Saya dan Aziza, roommate saya, sampe loncat-loncat di kantor polisi di depan imigran-imigran Arab yang menunggu antriannya. Alhamdulillah lagi. Dan terimakasih doa-doanya.
Akhirnya saya pun dini hari itu meninggalkan Zonguldak, diiringi panik karena sopir taksi yang datang terlalu awal dan goodbyes dari teman seasrama dan perjalanan yang penuh menunggu inipun dimulai. Sampai di Istanbul, di bandara saya bertemu dengan mahasiswa S3 dari Ankara, Mas Hilmy, menunggu jam check-in selama 6 jam-an bersama beliau. Setelah penerbangan selama 4 jam kemudian saya sampai di Qatar dimana saya harus nunggu 9 jam. 9 jam, sendirian, dan sakit. It was the worst part. Sampai kalau ditanya ada dimana saja toilet dan tempat mac (yes, they have it many and you can use it free) di bandara Qatar, saya bisa tunjukin sambil merem. Akhirnya saya sampai Jakarta, jam 11 malam, dan penerbangan terakhir ke Surabaya adalah pukul 10.30, woohooo. Unlucky me. Terpaksa saya harus nunggu lagi untuk penerbangan pertama esoknya.
Skip skip skip.
Tibalah waktunya saya balik. Bagian tertidakenak dari pulang kampung. Saya diantar sekeluarga, berangkat dari Kediri menuju Juanda, Surabaya. Kami berangkat 5 jam sebelum flight saya hari itu, flight terakhir. Jarak Kediri-Surabaya biasanya ditempuh 3 jam. Unlucky me again, mulai dari Mojokerto sudah macet karena pohon tumbang, kecelakaan, dst dst. I thought that we weren’t gonna make it. Tapi akhirnya kita sampai 30 menit sebelum pintu check in ditutup. Pfiuhh.. Sedih sedih lega. Tapi sedihnya lebih banyak. Saking sedihnya saya sempet mikir “duh.. harusnya sih saya nggak pulang kalau tau bakal sesedih ini. Kali ini ngga ada air mata di bandara. Tapi sediiiih banget harus pisah sama ibu, sama adik-adik, bapak, dan teman-teman.
Penerbangan Surabaya-Jakarta waktu itu penuh turbulensi, ngeri.. Lalu saya sampai Soekarno Hatta pukul 10.40, and guess what my flight was at 4 at morning. Dan saya nunggu lagi 5 jam. Setelah 9 jam penerbangan Jakarta-Qatar 9 jam, transit selama 4 jam, saya sampai di Istanbul jam 6 sore, dimana bus terakhir menuju Zonguldak adalah pukul 5.30 JJ hahahahhaha.. What a thing. Saya harus menunggu esok harinya pukul 1 malam hari, tapi selagi menunggu jam 1 malam itu saya sempat tidur di bandara 1,5 jam karena saya tidak bisa nyaman tidur selama perjalanan 2 hari itu. Lalu pukul 7 pagi harinya saya sampai di Kasur kesayangan saya disambut 3 teman yang sedang ngorok, dan saya juga akhirnya ikut ngorok.
Jadi kalau ditotal berapa jam dari Kediri menuju Zonguldak? :D
..
Seperti yang sudah saya bilang di post bawah, Januari kemarin pas liburan winter saya sempat pulang. Yuhu ke Indonesia tanah air beta. Dan, sebenernya postingan ini agak gak penting sih untuk di share, tapi pengalaman sebelum dan sesudah pulangnya yang lumayan
Waktu itu sesudah ujian vize (UTS), setelah stress sampe sakit dan ngga sembuh-sembuh karena ujian, lalu kebanyakan begadang
Beberapa hari menjelang selesai vize, tiba-tiba dini hari sekitar pukul 4 waktu Turki (Indonesia pukul 9) Ibu saya bbm, percakapan biasa lah lagi apa, temen sekamar lagi apa, liburan winter mau kemana, dst dst. Saya bilang liburan winter mau ke tempat Nana dan Mbak Ida di Canakkale. Nana dan Mbak Ida adalah bisa dibilang orang terdekat di Turki sih, meskipun mereka tinggalnya di ujung Akdeniz sana. Nana adalah murid Indonesia dari Magelang, dan Mbak Ida adalah orang Surabaya yang menikah dengan orang Turki. Anyways, tiba-tiba juga Ibu chat “dari pada kamu di sana jalan-jalan sama nyari makan sendiri jatohnya juga ngabisin uang saku mending pulang aja kamu”, demi apa. Ya siapa juga yang ngga senang disuruh pulang. Tapi banyak alasan juga sih yang sebenarnya menghalangi saya pulang, seperti saya harus menunggu ujian remedy (butunleme) dimana saya ngga tau ada pelajaran yang ngga lulus atau tidak, dan juga harga dollar yang cukup mahal saat itu. Dengan segala bujuk rayunya dan iming-iming dibayari uang tiketnya, akhirnya saya setuju buat pulang dan gambling dengan butunleme tadi, kalau saya ada yang tidak lulus berarti nasib saya buat mengulang tahun depan tanpa ikut ujian remedy. Akhirnya besok lusanya setelah dioyak-oyak Ibu lagi untuk beli tiket, malam hari (ditengah got kamar mandi kamar saya yang buntu mengakibatkan banjir jorok di kamar) setelah memilih-milih maskapai saya akhirnya memesan maskapai langganan (weits) Qatar Airways. Alhamdulillah.
Paginya, jeng-jeng!! Saya lupa kalau resident permit (ikamet) saya lagi diurus perpanjangannya di kantor polisi. Kantor polisi Turki. Yang ngga jelasnya mirip-mirip kantor polisi Indonesia. Sumpah. Gimana saya bisa lupa kalau ikamet saya lagi ngga ada. Jadi resident permit itu gunanya seperti visa yang masanya lama sekali. Kalau ada resident permit berarti kamu bisa keluar masuk negara itu semau kamu. Kalau ngga ada? Berarti kamu cuma bisa keluar doang ga bisa masuk lagi. Matihhh. Lalu saya ke kantor polisi siang itu juga sambil ngantuk-ngantuk (karena baru tidur paginya). Yep ofkors ikamet saya belum datang. Dan kata bu polisinya, mereka bisa bikin keterangan untuk saya, tapi dalam waktu 15 hari saya harus kembali ke Turki lagi. What theeeee.. Orang saya udah beli tiket buat seminggu lagi dan tiket balik ke Turki adalah telat 2 minggu dari tanggal masuk, berarti sekitar 1,5 bulan. Dan WTH is 15 hari??? Udah beli tiket mahal dan terancam gagal disitu saya merasa stress. Saya sudah stress banget dan nelpon-nelpon Ibu. Ibu pun akhirnya ikutan stress dan takut juga, duh. Saya udah chat sana-sini untuk minta doa biar lancer bisa pulang. 3 hari kemudian, 2 hari sebelum berangkatnya, saya sudah pasrah dan ke kantor polisi lagi, untuk minta surat keterangan 15 hari itu. Dan surprise dari alam! Ikamet saya datang. Saya dan Aziza, roommate saya, sampe loncat-loncat di kantor polisi di depan imigran-imigran Arab yang menunggu antriannya. Alhamdulillah lagi. Dan terimakasih doa-doanya.
Akhirnya saya pun dini hari itu meninggalkan Zonguldak, diiringi panik karena sopir taksi yang datang terlalu awal dan goodbyes dari teman seasrama dan perjalanan yang penuh menunggu inipun dimulai. Sampai di Istanbul, di bandara saya bertemu dengan mahasiswa S3 dari Ankara, Mas Hilmy, menunggu jam check-in selama 6 jam-an bersama beliau. Setelah penerbangan selama 4 jam kemudian saya sampai di Qatar dimana saya harus nunggu 9 jam. 9 jam, sendirian, dan sakit. It was the worst part. Sampai kalau ditanya ada dimana saja toilet dan tempat mac (yes, they have it many and you can use it free) di bandara Qatar, saya bisa tunjukin sambil merem. Akhirnya saya sampai Jakarta, jam 11 malam, dan penerbangan terakhir ke Surabaya adalah pukul 10.30, woohooo. Unlucky me. Terpaksa saya harus nunggu lagi untuk penerbangan pertama esoknya.
Skip skip skip.
Tibalah waktunya saya balik. Bagian tertidakenak dari pulang kampung. Saya diantar sekeluarga, berangkat dari Kediri menuju Juanda, Surabaya. Kami berangkat 5 jam sebelum flight saya hari itu, flight terakhir. Jarak Kediri-Surabaya biasanya ditempuh 3 jam. Unlucky me again, mulai dari Mojokerto sudah macet karena pohon tumbang, kecelakaan, dst dst. I thought that we weren’t gonna make it. Tapi akhirnya kita sampai 30 menit sebelum pintu check in ditutup. Pfiuhh.. Sedih sedih lega. Tapi sedihnya lebih banyak. Saking sedihnya saya sempet mikir “duh.. harusnya sih saya nggak pulang kalau tau bakal sesedih ini. Kali ini ngga ada air mata di bandara. Tapi sediiiih banget harus pisah sama ibu, sama adik-adik, bapak, dan teman-teman.
Penerbangan Surabaya-Jakarta waktu itu penuh turbulensi, ngeri.. Lalu saya sampai Soekarno Hatta pukul 10.40, and guess what my flight was at 4 at morning. Dan saya nunggu lagi 5 jam. Setelah 9 jam penerbangan Jakarta-Qatar 9 jam, transit selama 4 jam, saya sampai di Istanbul jam 6 sore, dimana bus terakhir menuju Zonguldak adalah pukul 5.30 JJ hahahahhaha.. What a thing. Saya harus menunggu esok harinya pukul 1 malam hari, tapi selagi menunggu jam 1 malam itu saya sempat tidur di bandara 1,5 jam karena saya tidak bisa nyaman tidur selama perjalanan 2 hari itu. Lalu pukul 7 pagi harinya saya sampai di Kasur kesayangan saya disambut 3 teman yang sedang ngorok, dan saya juga akhirnya ikut ngorok.
Jadi kalau ditotal berapa jam dari Kediri menuju Zonguldak? :D
Langganan:
Postingan (Atom)
Perempuan dan Tas Selempangnya
Sudah lama saya mempunyai ide tentang topik ini. Berawal dari bahasan tentang pakaian pada waktu saya dan pacar bertelefon beberapa mala...
-
Wuhu! Akhirnya nulis juga di blog ini. *bersih-bersih debu* Well, terakhir saya nulis adalah bulan Oktober 2014, yaitu hampir 4 bulan...
-
Merhaba! ehm. Akhirnya nulis lagi setelah hibernasi selama musim dingin. Sebetulnya saya menyesal sekali kenapa saya tidak menulis ...
-
Hehe. Tulisan ini adalah alasan. Bahane. Biar saya bisa meninggalkan buku-buku pelajaran saya yang seabrek dan belum terbuka sama sekali. ...


