Translate

Kamis, 19 Desember 2019

INTERPRETER/TRANSLATOR BAHASA TURKI

Halo!

Jika anda membutukan interpreter bahasa Turki untuk berbagai acara (liburan, pernikahan, peninjauan pabrik, dll)  khususnya di daerah Jawa, silahkan hubungi saya di:

📱 085259234663
📧 azahrarona@gmail.com

Background:

Saya telah menempuh pendidikan pengantar bahasa Turki (TOMER) di Zonguldak selama 1 tahun dan menempuh pendidikan S1 jurusan Perdagangan Internasional selama 4 tahun di Bulent Ecevit University, Zonguldak.

Pengalaman:

1. Mei 2018
Event: Mengantarkan klien untuk tujuan import kertas dari Indonesia
Klien: Serkan Ayci, Ayci Promosyon, Zonguldak.
Lama: 7 hari
Tempat: Jakarta

2. Oktober 2019
Event: Mentranslate dokumen kehilangan bahasa Turki
Klien: Star Brain Translator, Malang.

3. Oktober 2019
Event: Melakukan tugas interpreter untuk teknisi Japan Tobacco Industry dari Turki.
Klien: Star Brain Translator, Malang.
Lama: 3 hari
Tempat: PT. Karya Dibya Mahardika, Pandaan.

----------------------------------------------------------


Jumat, 29 November 2019

Pengalaman Menjadi Interpreter

Pagi itu saya dichat temen saya lulusan Canakkale yang sedang tugas di Konawe, Nana, katanya ada yang mau nawarin saya kerjaan buat jadi interpreter.

fyi: Interpreting is a translational activity in which one produces a first and final translation on the basis of a one-time exposure to an expression in a source language.

jadi intinya interpreting ini kerjaannya adalah mengartikan apa yang dikatakan seseorang ke bahasa lain. Apa bedanya dengan translator? Translator biasanya mengartikan dokumen.

Kembali ke Nana. Akhirnya saya dihubungkan dengan senior Nana, Mas Nofri (shout out for Mas Nofri for giving me such a chance). Oleh Mas Nofri ini saya dihubungi akhirnya, katanya ada pekerjaan untuk mentranslate orang Turki, di pabrik di Pandaan. Setelah itu dihubungkanlah saya sama Pak Wira hahahahaha ruwet ya. But link is the key, fellows. Pak Wira ini punya perusahaan interpreter di Malang.

Nah di sini sebenarnya masih skeptis pekerjaan interpreter. Kenapa?

Karena sodara-sodara, saya pernah dapet tawaran mendampingi rombongan pengantin pria yang akan mau menikah dengan cewek asal Jawa Timur (rahasia ah kasian wkwk). Si pengantin cewenya menghubungi saya, minta dibantu untuk menjembatani percakapan antara kedua pengantin dan antar keluarga. Iya saya juga bingung kok bisa sampe menikah wkwk. Dan dia menawarkan fee yang bisa dibilang hanya cukup untuk transportnya aja.

Ya ekspektasi saya pasti nggak jauh dari itu, apalagi Pak Wira bilang untuk 3 hari. Alamat lah capek doang. Dia bilang saya buatkan surat penawaran dulu. Blablabla beberapa jam kemudian pak Wira menghubungi saya lagi buat ngasih tau feenya. Ternyata sodara-sodara, feenya lumayan banget :'puji syukur (pm for details lol) nggak kaya yang sebelumnya.

Akhirnya setelah wawancara sama pihak perusahaan pak Wira, deal dan hari Senin, 21 Oktober saya berangkat dengan kendaraan pribadi menuju Pandaan. Perusahaan yang menggunakan jasa Pak Wira adalah PT. Karya Dibya Mahardika, perusahaan rokok yang memproduksi rokok Apache, dan juga rokok ekspor. Sampai di pabrik jam 07.30 Selasa-nya, saya masih nggak tau topik apa yang bakal saya translate lol.

Jam 08.30 saya diarahkan menuju kantor perusahaan, dan beberapa menit kemudian bapak-bapak bulenya datang. Iya literally bapak-bapak usia 60-70an. Ternyata mereka adalah tim teknisi senior internasional dari perusahaan Japan Tobacco International, 2 orang Rusia dan 1 orang Turki, yaitu pak Celalettin (baca:Jelalettin/Jalaluddin/Jalal). Setelah dibriefing, ternyata mereka sedang mencari kandidat untuk ditarik ke kantor internasional, dan mereka harus mewawancarai teknisi lokal untuk menyeleksi kandidat.

Matih. Udah setahunan nggak ngomong bahasa Turki (my Turkish related activities were only chattings and reading memes), tambah gugup dan bahasa yang akan ditranslate full bahasa teknis. Huwoyyy. I'm really gonna fk this up, my review gonna be bad, they will not hire me anymore. Bye.

Sesi pertama interview dengan pak Eko (no dont do that masuk pak eko joke). Ketua grup teknisi senior, Pak Eugene dari Rusia menjelaskan tujuan mereka datang ke Indonesia dan hal-hal lain, yang ditranslate oleh interpreter bahasa Rusia ke bahasa Indonesia kepada interviewee (orang yang diinterview), lalu kemudian saya translate-kan ke bahasa Turki kepada pak Jalal. Ruwet kan? EMAAAANG.

Dengan bahasa Turki yang belepotan karena gugup dan istilah yang teknis yang saya tidak familiar sekali, hasilnya adalah chaos! Hari pertama rasanya capek sekali. Mana saya nga terbiasa kerja 9-5, jadi yah lumayan lah. Oiya, btw hotel dan biasa akomodasi lain sudah ditanggung pihak pak Wira.

Lalu, hari kedua saya mulai akrab dengan pak Jalal, kami diskusi tentang apa sih sebenernya yang  tim beliau ini lakukan di sini, beliau tanya background saya apa, akhirnya kami berakhir diskusi tentang manajemen sampai bahas gimana mengelola SDM yang bener. Pak Jalal juga bercerita kalau beliau dan timnya ini sering sekali berpergian, katanya dari 12 bulan dalam setahun, 9 bulannya dihabiskan di luar negaranya.

2 orang yang diinterview perhari, ditanya masalah teknis operasi mesin-mesin produksi. Dari yang awalnya saya nggak tau apapun tentang istilah teknis produksi, jadi sampai hafal sampai gimana kertas dan tembakau diproses menjadi sebatang rokok tanpa cacat.

Sampai pada hari ketiga, pagi hari kami menyambut interviewee dan Pak Jalal bilang, "Azahra, kamu sudah hafal kan yang ditanyakan, coba kamu aja sekarang yang wawancara." bhaiiiqqq paaaak.. Jadi beliau tinggal saya lapori saja translate-an apa yang dikatakan para interviewee, meskipun sebenarnya saya melakukan pekerjaan di luar jobdesc saya, saya jadi belajar banyak hal bagaimana trik-trik mewawancara seseorang, yang belum tentu bisa saya dapat di luaran.

Dalam 3 hari tersebut, selai belajar banyak tentang teknis dan nonteknis produksi, saya juga bertemu banyak orang baru. Mbak Dinda, Mas Yarmand keduanya translator bahasa Rusia (shout out untuk pizza dan bubble drinknya), yang malamnya kedainya saya samperin di Bangil. Saya juga jadi kenal dengan salah satu teknisi yang diinterview, Mas Farid, makasih sudah ditemani di tanah Pandaan yang sangat asing itu.

Well, it was fun. Looking forward to another interpreting advenure!


PS: If you need Turkish interpreter for companies, holiday guide, or private events (wedding, engagement, etc) Contact me on azahrarona@gmail.com, DM instagram @azahrarona or whatsapp +6281359171221.


Pak Jalal menanyai teknisi detail mesin


Briefing


Cigarette maker machine

Pizza mbak Dinda sama Bubble Drink Mas Yarmand ditengah mati lampu Pandaan
Anak Pabrik yang colorful

Jumat, 09 November 2018

Pigura

Hari ini hariku berubah gara-gara pigura.

Hari ini seperti biasa, aku bangun  pukul 9.30 dan goleran dulu sampai jam 10.00. Kebiasaan baru selama setelah pulang dari Turki ini. Karena satu-satunya tanggung jawabku adalah mengurus toko, yang saat ini belum bisa diurus karena satu dan lain hal. Ini cerita lain.

Lalu aku mandi, dan sarapan, bersama bapak. Selalu aku berdoa, semoga tidak ada argumen yang tidak penting ketika aku sedang di area yang sama dengannya. Dan ternyata tidak ada, syukurlah. Datanglah mbak toko ke atas, memesan 2 kopi kepada Bulik, PRT yang sudah lama melayani disini dan klepto. Oh, berarti Ibu ada tamu di bawah. Padahal kita sudah sepakat bahwa kantor bawah tidak boleh untuk menerima tamu. Yasudah.

Aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan tentang proses mengambil alih toko. Kuputuskan untuk memindah meja bekas meja organ (dari kayu) yang sudah lama menganggur di koridor lantai 2 ke kamarku. Meja ini dulu digunakan untuk menaruh organ murah yang dibeli bapak, lalu rusak, tutsnya patah, lalu entah dimana organ itu sekarang. Lalu karena masih bagus dijadikan meja untuk koridor. Untuk menaruh apa saja, map, topi, kertas-kertas. Saat akan kupindah ke kamarku, banyak barang bapak, dan kutaruh di tempat lain.

Lalu ada pigura itu.

Waktu pertama kali aku melihat organ itu, aku agak sedikit familiar. Lalu aku ingat, pigura itu. Pigura itu kosong tanpa foto. Tapi aku ingat sekali foto itu pernah diisi foto pernikahan bapak dan ibu. Ibu masih muda, 27 tahun, rambutnya disangguldan bermelati. Kebayanya putih tulang. Bapak, juga masih muda, 31 tahun. Jasnya coklat muda berkopyah hitam, dikalungi melati juga. Tempat pigura itu dulu samping belakang tangga menuju lantai 3. Foto itu selalu ada disitu sepanjang yang masih kuingat.

Saat ku dapati pigura itu kosong, dan tergeletak di meja di koridor, it sank in, ya begini sudah keadaannya. mungkin agak telat menyadari itu. Tidak, sebenarnya aku sudah sadar dan tidak denial. Tapi melihat sekali lagi bukti keadaan rumah ini, it stuck me once more.


Sudah tidak ada yang perlu diketik lagi. Semoga semua menjadi lebih bahagia.

Cheers.

Selasa, 24 Oktober 2017

Tahayul Turki: Nazar Boncuğu

*tulisan kali ini disponsori oleh males belajar alias kabur dari ujian mid-term seminggu lagi*

Pohon Nazar Boncugu - Kapadokya

Puji syukur kali ini saya diberkati ke-excited-an untuk menulis dan alasan-alasan lain yang mendorong saya untuk menulis tentang Nazar Boncuğu.

Sebetulnya saya tidak pernah tertarik untuk menulis tentang Nazar Boncuk ini. Tapi gara-gara satu peristiwa yang menurut saya aneh (atau kebetulan) yang membuat saya amazed lalu saya jadi tertarik untuk menulis tentang satu tahayul diantara banyak tahayul di Turki. Jadi begini:

Minggu kemarin, saya diundang sarapan di apartemen teman sekelas saya (kenapa nggak lunch atau dinner? Tunggu di tulisan saya tentang Kultur Sarapan Turki). Kami mulai makan di balkon apartemennya sambil ngobrol, nggosip, dan guyon-guyon. Lalu setelah makan dan foto-foto pastinya, sang tuan rumah, Busra, menawari kami untuk minum kopi Turki. Lalu salah satu diantara kami menyeplos, “Wah, sekalian kamu liat ya nanti cangkirnya!”. “Beres.” Busra menjawab dengan tenang. Lhah. Selama 4 tahun saya sekelas dan merhaba-merhaba-an dengan mereka kok saya baru tau mereka bisa baca fincan (baca fincan: membaca/meramal apa yang terlihat di cangkir). “Lhoh aku kok ngga tau kalian bisa baca fincan? Kalau gitu aku yang pertama kamu lihat ya!” saya langsung curi start hehe (tulisan tentang ramal meramal kopi Turki akan dibahas di tulisan selanjutnya). Ternyata cangkir teman saya sudah siap terlebih dahulu karena saya minum terlalu lambat. Disela menunggu cangkir saya dingin teman yang duduk disebelah saya, Tugce, sedang membaca  cangkir teman saya yang lain. Lhah dua kali. Ternyata dia juga bisa membaca.

Akhirnya Tugce selesai membaca satu cangkir teman saya. Lalu saya bilang pada Tugce, “Tugce, nih kamu lihat dulu saja sebelum dilihat Busra.” “Oh iya mana.” Kata pertama yang dia ucapkan adalah “OHA!”. Oha adalah kata-kata orang Turki untuk mengapresiasikan kekagetan dengan sedikit tidak sopan (bila digunakan untuk orang yang lebih tua). “Ada mata (nazar) besar sekali disini.” Kata Tugce. “Iya saya tadi juga lihat.” Kata Busra dari seberang meja. Kali itu saya tidak begitu paham dengan konsep nazar lalu saya hanya jawab “Oh”.

Lalu Tugce menyebutkan hal-hal yang dilihat di cangkir saya dengan lugas, lancar, dan yakin. Kata dia, ada seseorang yang memandang saya dengan sangat intens atau bisa jadi dengan penuh kekaguman sehingga menimbulkan nazar itu tadi. Saya masih menduga-duga nazar itu datang dari siapa. Menurut dia, ada sosok laki-laki yang saya sedang bertengkar dengannya, lalu dia melihat ada sosok 3 orang cewek di sekitar saya yang menurut Tugce kalau saya terlalu dekat bisa meruwetkan urusan, tapi kata dia ada garis diantara cewe-cewe tersebut yang artinya saya sudah menjaga jarak dengan mereka. Lalu Tugce menyebutkan ada beberapa jalan/perjalanan yang akan saya alami, dan beberapa hal lain yang saya tidak ingat.  Busra pun mengatakan hal yang tidak jauh beda, namun ada satu hal yang sangat ingat, bahwa di cangkir saya muncul seorang wanita yang mendukung saya dalam hal apapun. Saya langsung teringat ibu.

Hari ini saya berniat meresearch tentang nazar. Saya membuka laptop saya dan berniat bikin teh. Perlu diingat saya bukan tipe orang yang ceroboh hehe. Namun entah kenapa waktu itu saya mau pergi mencuci gelas, gelas yang saya genggam, gelas kesayangan saya yang baru saya beli beberapa minggu lalu, jatuh atau mungkin tergelincir dari tangan saya dan pecah di lantai. Ketika saya terlihat sedih melihat sisa-sisa pecahan gelas kesayangan saya, Yasemin, teman sekamar saya berkata “Lah, harusnya kamu jadi tenang dong nazarnya sudah hilang kena gelasmu”. Lalu saya bingung, “Emang kalau kena nazar segitu jeleknya apa?” kata saya masih sedih kehilangan gelas. “Ada orang yang sampai mati kena nazar” kata dia.  Saya ingat terakhir kali saya memecahkan gelas adalah ketika saya masih di kelas preparation bahasa Turki, kala itu teman saya juga bicara soal nazar.

Lalu saya cari tau bagaimana kepercayaan orang Turki terhadap nazar. Saya menemukan satu web yang membahas tentang nazar. Menurut Institusi Bahasa Turki (Turk Dil Kurumu TDK) Nazar: Keburukan atau ketidak-beruntungan (nazar/goz) yang diberikan oleh orang-orang tertentu yang melihat seseorang atau sesuatu dengan kekaguman atau kecemburuan. Seperti misalnya, orang yang iri dengan mobil seseorang, dipercayai bisa memberi energi negatif dan bisa menimbulkan hal buruk seperti kecelakaan. Atau ketika kita melihat bayi yang sangat lucu di jalan, ibunya pasti bilang, jangan lupa bilang MashaAllah. Nah, disinilah Evil’s Eye dan ucapan MashaAllah berfungsi. Menurut kepercayaan, Nazar boncuk ini tadi bisa menyedot energi negatif dari kekaguman atau kecemburuan.

Sering ketika sesuatu terjadi kepada barang baru/bagus atau seseorang yang cantik/ganteng/bayi lucu/orang dewasa yang lucu *eh orang Turki sering kali menyalahkan nazar atau ketidak-beruntungan. Bahkan teman saya suatu kali pernah memuji baju saya (atau apa ya saya lupa) dia berkata, “kalau kena nazar itu pasti dari saya, soalnya saya suka sekali.”

Nazar boncuk ini biasa di pasang di pintu-pintu rumah, mobil, bahkan baju anak agar terhindar dari ketidak-beruntungan. Nazar boncuk ini biasanya terbuat dari kaca. Nah, jadi seperti itulah kepercayaan orang Turki tentang nazar dan mengapa mereka memasangnya di setiap sudut mulai dari ukuran seukuran manik gelang hingga sebesar telapak tangan orang dewasa.


Ada yang minat titip mungkin?

Tim Sarapan - Temukan Tugce dan Busra di gambar ini. Lol.


kopi Turki made by Busra
cangkir yang siap diramal

Minggu, 15 Oktober 2017

Untuk Sahabat Lama dan Kenangan di Krakow

Sekarang musim gugur di Zonguldak. 10-13 derajat setiap harinya. Lalu aku teringat Polandia. Tapi Polandia tidak sehangat ini, aku ingat aku harus pakai 3 lapis kaos kaki ketika harus keluar asrama.

Lalu entah kenapa aku teringat Krakow. Krakow adalah salah satu kota tua di Polandia. Krakow adalah kota terindah dan klasik juga bisa dibilang romantis yang pernah kita kunjungi sela pertukaran pelajar di kala itu. Dingin juga membawa ingatanku kembali ke Krakow. Entah mengapa. Mungkin karena kita kedinginan mulai dari waktu kita turun dari kereta sampai kita akan naik kereta lagi menuju Katowice. Mungkin karena kita kedinginan ketika mengitari area kota tua di tengah kota Krakow di antara bangunan-bangunan tua bekas perang dunia.

Kita putar-putar hari itu. Makan pierogi, minum sup tomat khas Polandia, makan dessert khas Ceko yang aku lupa namanya namun kita tidak bisa habiskan waktu  itu. Di sela tur, aku kedinginan dan minta berhenti di sebuah kafe. Sebetulnya kafe yang biasa kita kunjungi di Katowice, tapi karena sekali lagi, Krakow, tempat spesial, setiap sudut terasa indah. Kafe itu tepat di pojokan depan gereja St. Barbara, ada ibadah waktu itu. Kita memesan kopi dan pastry masing-masing dan duduk di salah satu kursi untuk 2 orang, sama-sama lelah. Tapi kita tetap menemukan bahan obrolan, tidak seperti sekarang sikap kita yang berusaha menutup obrolan meskipun aku tau kita berdua menahan mati-matian untuk sekedar saling sapa.

Hari menjelang malam dan jam tiket kereta sudah mendekat, terakhir kita melihat seorang ahli besi di tengah kota tua.  Aku tau kamu sangat kagum dengan hal seperti itu, bahkan kamu mencoba menawari membelikanku pedang-pedangan dari kayu. -_-


Memang setiap hal yang terjadi adalah skenario yang paling baik, kata optimist. Aku juga berusaha percaya, untuk mengobati rasa ingin kembali menjadi sahabat, saudara super dekat, seperti dulu. Semoga apapun yang telah terjadi dan akan terjadi kepada kita dan satu sama lain adalah takdir terbaik yang disiapkan untuk kita.

pintu masuk menuju kota tua

monumen di tengah kota tua

Wawel Castle

Wawel Castle 2

Senin, 25 April 2016

Saya dan Makanan Turki

In this point of my life, where I’m living in Turkey, I started to realize that I am addicted to some certain things. Certain things I will miss when I graduate. Certain things that don’t exist in my home country, Indonesia. By certain things, mostly I’m talking about foods.

Selama saya tinggal di Turki, kurang lebih 3 tahunan, semenjak saya datang pertama kali kesini saya menemukan sekali banyak kultur baru, kebiasaan baru, cara baru melakukan sesuatu, dan itu semua beda sekali dengan kebiasaan dan kultur saya di kampung halaman. Mereka makan roti dan kita makan nasi. Mereka minum teh hitam dan kita minum the melati. Mereka tidak begitu doyan bumbu dimana kita kalau makan kurang bumbu tidak jadi makan. Saya jadi ingat pertama kali datang ke asrama saya di Zonguldak, saya dibimbing teman saya untuk caranya ambil makan dan saya kaget, ‘Ini semua makanan apa siiih…’.

Salah satu keragaman masakan Turki adalah mereka menggunakan plain yogurt untuk saus yang dituang di atas atau di samping makanan. YES, nggak salah baca kok. Misalnya masakan ıspanak, biber dolması, oturtma, kızartma, iskender (google ya guys) makanan-makanan tersebut menggunakan yogurt sebagai saus. Nah, dulu saya sempat jijik dan kalau mau makan menu-menu tersebut pun saya minta yang tidak pakai yogurt. Tapi lama kelamaan dan mulai kapan saya ngga inget, akhirnya saya suka juga tuh. Malah kalau tidak pakai yogurt rasanya jadi aneh. L

iskender
ispanak
biber dolmasi
Lalu ada pengalaman lagi tentang acar. Orang Turki, Timur Tengah dan Eropa Timur suka sekali membuat acar dari semua vegetable. Literally semua. Kubis, mentimun, tomat, wortel, cabai, dll. Awalnya, tradisi membikin acar ini bertujuan untuk cadangan makanan selama winter. Selama winter kebun dan ladang tidak berproduksi jadi selama musim semi dan panas mereka mengacarkan tumbuh-tumbuhan. Di Turki, acar pertama yang saya kenal adalah acar mentimun. Acar mentimun orang Turki beda dengan acar kita, acarnya tidak dipotong dan baunya sedikit ‘berbeda’. Pertama saya kenal acar itu adalah ketika roommate saya pulang dari kampung halamannya dan dia kembali ke asrama membawa setengah gallon acar. Saya yang baru pertama kali mencium baunya sampai sedih karena mereka ngga sadar kalau saya ngga suka dan saya pun sungkan mau bilang, akhirnya saya cuma bisa masuk selimut sampai pelepekan. L Tapi akhirnya saya suka juga kok dengan berbagai acar di Turki ini. Dan by the way acar favorit saya adalah acar turnip. *drooling*
acar turnip

Selanjutnya adalah tradisi minum teh. Teh yang diminum di Turki adalah teh hitam, rasanya lebih pahit dari teh melati Indonesia. Di Indonesia, teh manis, panas atau dingin, diminum pagi saat sarapan (jika ingin) atau setelah makan saja, kan? Di Turki tidak begitu, kebanyakan orang Turki minum teh tanpa gula dan teh diminum hanya saat panas, kalau dingin ya dibuang. Teh wajib ada saat sarapan, di waktu lain seperti lunch dan dinner, teh diminum setelah makan bersama desert sambil ngobrol dengan kerabat. Ufff ini mantap sekali dan budaya yang paling saya suka. Teh juga diminum ketika kamu pergi ngobrol ke café dan ngobrol bersama sahabat, atau sekedar saat istirahat sela kuliah, pokoknya teh itu jiwa.

turkish tea
Selain itu ada juga beberapa makanan yang terasa aneh di mulut orang Indonesia meskipun sudah lama tinggal di Turki, misalnya şalgam suyu; air acar wortel hitam yang rasanya sedikit berempah, ayran; minuman dari yogurt yang rasanya sedikit asin, dan buah zaitun yang biasanya dimakan dalam sarapan.

salgam suyu
Dari kesemua yang saya sampaikan diatas hanya beberapa yang saya tidak suka. Dengan tidak sadar saya sudah terbiasa dengan makanan-makanan di Turki (bukan berarti saya sudah tidak suka makanan Indonesia lo). Saya sempat kepikiran, beberapa tahun kedepan seandainya saya kepikiran tiba-tiba pingin acar turnip, lalu saya harus apa hahaha, dan saat itu juga saya juga sadar kalau di Turki ini saya tidak cuma suka acar turnip, tapi hampir semua makanan Turki.

Semoga nasib mengizinkan saya untuk mendapatkan rejeki sehingga tetap bisa makanan-makanan Turki langsung dari tanahnya. Aamiin.

Senin, 18 Januari 2016

2/8 and 3/8 Short Review

This is still January right, so I still can wish you all a happy, healthy, cheerful, and peaceful year ahead.

I'm a lazy blogger. Apparently not just as a blogger, but also in other fields I’m a big procrastinator. The last time I opened this blog was, emmm last month if I’m not mistaken, while the last post I made was in..... July last year. WHAT. Gila bruh.

In that interval of time there were a lot of events I passed without sharing it here. Let's see what we got here; the last time I wrote was last July, means when I was on my summer holiday in Indonesia. Summer holidays is the most unproductive time of my year and after that winter holiday is following in the list. So I will leave it to that. In September, I came back to the lovely Zonguldak, kömür kokulu memleketim (google that). Well, I'm supposed to sum up my 2nd and 3rd semester in university as what I’ve written in the title.

Before getting into the 3rd semester let’s just have a look at what I’ve done in 2nd semester.  There were 9 subjects and 2 of them were non face to face subjects (means we can follow up from the internet; uzaktan egitim). I passed the entire subject with average marks. No remedy. The marks and the GPA is better than the 1st semester but still my GPA couldn’t reach 3 in that semester, because I think I still couldn’t get used to Turkish words (BOOO!). But, there were this one subject that I was afraid of at the beginning of semester (click here to read my post about first semester), which was Ticaret Hukuku (commercial law) but turned out at the end I got BA from that subject. Hehe. Aferin kendime.

And then the summer holiday. It went so well, the highlight of the year. Although it passed so quickly no one knows why.

The 3rd semester started really normally. Like there was no special new spirit, supposed that I’ve been on holiday. Nope. There was 8 subjects, I went to classes (more than last semesters) and from the first week of semester to mid-term it was only 4 weeks. And I studied. Köpek gibi. I started to study earlier because I was just in mood for studying hahaha. And surprisingly I got nice marks. Paid off!!

From the mid-term to final exams I got 3 weeks and guess what, a week before the exams I went on a holiday for a full week to Istanbul, Izmir, and Konya with my friend who is studying in England, Mbak Dilla (you can read the article about it here in her blog) NEKATTT! When I came to Zonguldak I caught cold too unfortunately. Tired, sick, and exam weeks. Nice combination isn’t it? But thank God the marks that I got are so good; in fact my GPA is 3 point something. Thank God once again.

So, that’s all about my second and third semester here in Bulent Ecevit University in Zonguldak. Now I’m on my winter holiday, broke. Hahaha. My mom offered me to go home but no thanks Mom. Winter break has always been a pain for me, especially when you don’t have family around. You got nothing to do, everyone is going home, and it is too cold if you wanna go somewhere. But its either you go somewhere or you stay in dorm and rot. At the next post I'm coming with more pictures from my holiday.


bonus meme, im a 9gagger for sure



Thanks for reading!

PS: correct me if you find grammatical mistake(s) :)

Perempuan dan Tas Selempangnya

  Sudah lama saya mempunyai ide tentang topik ini. Berawal dari bahasan tentang pakaian pada waktu saya dan pacar bertelefon beberapa mala...